Warga Sungai Ambawang Gelar Ritual Bapinta Hujan, Mohon Berkah dan Hilangnya Kabut Asap

CK.COM.KUBU RAYA – Di tengah musim kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan, masyarakat adat di Kabupaten Kubu Raya kembali meneguhkan ikatan dengan alam dan Sang Pencipta melalui ritual leluhur./6/9/2026/

Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Sungai Ambawang bersama DAD Kabupaten Kubu Raya menggelar Ritual Adat Bapinta Ujat atau Bapinta Hujan di Desa Durian Pantak Nek Oto, Kecamatan Sungai Ambawang.

Kegiatan ini dihadiri Ketua DAD Kecamatan Sungai Ambawang Bapak Daniel,S.Pd., perwakilan DAD Kabupaten Kubu Raya, para Temenggung se-Kecamatan Sungai Ambawang, unsur TNI-Polri dari Koramil dan Polsek Sungai Ambawang, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Ritual sebagai Bahasa Doa, Bukan Penyembahan
Dalam sambutannya, Bapak Daniel menjelaskan bahwa Bapinta Ujat bukanlah praktik kepercayaan menyimpang. Ritual ini dipahami sebagai media budaya untuk menyampaikan permohonan kolektif.

“Ritual Bapinta Ujat atau Bapinta Hujan ini adalah bentuk permohonan kita bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar hujan dapat turun dengan baik dan membawa berkah, sehingga kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah kita dapat berkurang dan teratasi. Semoga kabut asap yang selama ini menyelimuti daerah kita segera hilang, dan udara kembali bersih untuk kesehatan kita semua,” ujar Daniel.

Ia menekankan, praktik ini adalah cara leluhur Dayak menyelaraskan kehidupan manusia dengan alam. Nilai-nilainya tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan menjadi ekspresi spiritualitas yang luhur dan mengakar.

Menjawab Krisis Ekologi dengan Kearifan Lokal
Pelaksanaan ritual di tengah meningkatnya titik api dan kabut asap di Kalimantan Barat menjadi penanda penting. Ketika pendekatan teknis dan penegakan hukum terus dilakukan pemerintah, masyarakat adat memilih jalur kultural-spiritual sebagai bentuk ikhtiar.

Kehadiran aparat keamanan dan pemerintah dalam ritual ini juga menunjukkan adanya pengakuan terhadap peran kelembagaan adat dalam menjaga ketertiban sosial dan kelestarian lingkungan.

Bagi masyarakat Dayak, hujan bukan sekadar fenomena meteorologi. Hujan adalah berkah, penyeimbang ekosistem, dan penjamin keberlangsungan hidup. Karena itu, doa bersama menjadi wujud tanggung jawab moral kolektif atas kerusakan alam yang terjadi.

Ritual Bapinta Ujat di Durian Pantak Nek Oto menutup dengan doa bersama. Harapannya sederhana namun mendasar: bumi kembali basah, langit kembali jernih, dan masyarakat dapat hidup sehat dan aman.

/Ulianus ck/