@Corongkasus.com. Sambas, Kalimantan Barat— Seorang warga bernama Zulfikar alias Usu menyampaikan keluhan terkait pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Sambas setelah mendampingi tetangganya yang sedang sakit. Keluhan tersebut turut beredar melalui sebuah video yang viral di media sosial.(8/12/25)

Menurut penuturan Zulfikar, ia membawa pasien pada sore hari menggunakan mobil dan langsung berhenti di area depan IGD. Sesampainya di lokasi, Zulfikar dan keluarga pasien melapor kepada perawat yang kemudian memanggil dokter serta petugas keamanan. Setelah dilakukan pemeriksaan awal, perawat menyampaikan bahwa seluruh bed IGD dalam kondisi penuh sehingga pasien diminta untuk menunggu.
“Bang mohon tunggu dulu ya karena bed-nya penuh,” ujar perawat sebagaimana ditirukan Zulfikar.
Zulfikar menyebut pasien tetap berada di dalam mobil selama menunggu sekitar 5–10 menit. Tidak lama berselang, sebuah ambulans lain tiba di belakang kendaraan mereka. Beberapa kali dokter berbeda datang kembali untuk memeriksa kondisi pasien.
Sekitar 30 menit kemudian, Zulfikar mengaku melihat salah satu bed yang sebelumnya digunakan oleh pasien dari ambulans didorong keluar dalam keadaan kosong. Hal tersebut membuatnya mempertanyakan alasan keterlambatan penanganan.
Melihat bed kosong tersebut, Zulfikar kemudian turun dari mobil, meski dalam kondisi tubuh menggigil karena kurang enak badan dan menghampiri petugas untuk meminta penjelasan.
“Tadi dibilang bed penuh dan kami diminta menunggu. Tapi kenapa pasien lain yang datang belakangan justru dapat bed lebih dulu?” tanya Zulfikar kepada dokter jaga.
Menurut Zulfikar, salah seorang dokter menjelaskan bahwa pihak keluarga pasien kedua mengambil bed dari lantai atas. Namun jawaban tersebut dinilai tidak tepat.
“Tidak bisa seperti itu, Dok. Kami datang lebih dulu. Masa yang datang belakangan justru diprioritaskan? Apa harus bayar untuk dapat bed?” ucapnya.
Dalam situasi memanas itu, Zulfikar menyebut beberapa orang berbaju dinas diduga keluarga atau pendamping pasien kedua berada di dekat lokasi tanpa memberi penjelasan. Salah satu di antaranya kemudian mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui bahwa Zulfikar dan pasien yang didampinginya datang lebih dahulu.
“Jangan karena kami pakai baju biasa, jadi diperlakukan berbeda. Pasien di mobil itu sakitnya parah,” kata Zulfikar dalam video yang turut beredar.
Tidak lama kemudian, perawat memanggil Zulfikar dan menawarkan sebuah bed untuk pasien tersebut. Bahkan dua bed kosong dibawa oleh petugas ke arah mobil, lalu pasien dipindahkan ke IGD.
Dalam proses pemindahan itu, Zulfikar masih mempertanyakan mengapa pasien sempat dibiarkan menunggu cukup lama.
“Kenapa di angkat pak,kenapa gak di suruh jalan mungkin tadi merasa pasien ini tidak parah,ujar Usu.
Zulfikar menegaskan bahwa dirinya bukan keluarga pasien, melainkan tetangga yang hanya membantu proses pengurusan. Ia menyebut suami pasien yang mendampinginya sejak awal justru meminta dirinya berkomunikasi dengan petugas karena kondisi saat itu cukup panik.
Pihak keluarga pasien, kata Zulfikar, menyampaikan terima kasih kepadanya atas upaya mengadvokasi penanganan.
“Terima kasih, Su. Kalau bukan kau, mungkin kami belum dapat bed,” ujar suami pasien, sebagaimana dikutip Zulfikar.
Istri pasien di dalam IGD juga menyampaikan hal serupa: “Pak Usu, makasih sudah bantu.”
Hingga berita ini dirilis, redaksi masih berupaya menghubungi pihak RSUD Sambas untuk mendapatkan konfirmasi terkait prosedur penanganan pasien IGD, ketersediaan bed, serta klarifikasi atas situasi yang terjadi.
Sumber : Zulfikar (Usu)
Pewarta : M.A
Editor : M.A
Tim Investigasi : Awak Media Mata Elang Kalbar.






