CK.COM.KUBU RAYA- Pergantian kepemimpinan di jajaran Polri kerap diukur dari jumlah penindakan. Namun IPTU Saleh, Kapolsek Kuala Mandor B yang baru, memilih memulai tugas dengan cara berbeda: konsolidasi. Kamis, 11 Juni 2026 pukul 14.00-16.00 WIB, ia menggelar forum _Perkenalan dan Silaturahmi_ di Aula Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya. Tidak ada agenda krisis. Justru karena tidak ada krisis, forum ini penting.
*50 Aktor Kunci Duduk Satu Meja*
Silaturahmi ini mempertemukan 50 pemangku kepentingan. Dari unsur pemerintahan: Camat Kuala Mandor B Brian Kurniawan,S.STP,M.AP; Korwil Pendidikan Thomas,S.Pd; Korluh Pertanian Nur Agus Wandrianto, S.P; Korwil PL KB Ibu Dea; Kapus Mustain Hamzah,S.Km.
Dari unsur keamanan: Danpos Serka Supriyanto. Dari masyarakat sipil: PCNU H. Abdul Rasyid,S.Pdi; para Kades se-KMB; Karang Taruna tingkat kecamatan dan desa. Bahkan sektor swasta ikut hadir lewat perwakilan PT BPK Sdr. Malik dan PT KSP Sdr. Dimas.
Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya,Amir,S.ST.PI. menekankan pentingnya sinergitas antarprogram pembangunan sebagai kunci mewujudkan KMB yang lebih maju dan berdaya saing.
Dalam pernyataannya, Kasi Kesra menyebut pembangunan tidak bisa berjalan parsial. Kolaborasi antara pemerintah kecamatan, desa, lembaga adat, hingga masyarakat menjadi prasyarat agar setiap program punya dampak nyata.
Komposisi peserta ini mencerminkan pemahaman baru tentang keamanan. Kamtibmas bukan lagi monopoli aparat. Ia adalah tanggung jawab kolektif antara negara, pasar, dan komunitas.
*Hasil Forum: 3 Pilar Koordinasi Antisipatif*
Meski forum ini tanpa insiden, 3 kesimpulan strategis lahir dari meja dialog:
1. *Membangun kanal komunikasi permanen* antara Polsek KMB, Forkopimcam, para Kades, dan masyarakat. Tujuannya menjaga Kamtibmas dan memastikan agenda pembangunan berjalan tanpa friksi.
2. *Mencegah, bukan hanya menindak*. IPTU Saleh menegaskan pentingnya komunikasi berkelanjutan meski belum ada gangguan. Ini logika “preventive policing”: menyelesaikan potensi konflik saat masih berupa asap, bukan menunggu jadi api.
3. *Mengaktifkan jaringan sosial* lewat Karang Taruna, tokoh masyarakat, dan instansi terkait. Mereka berfungsi sebagai sensor awal untuk membaca dinamika desa, agenda pemerintah, dan potensi kerawanan.
Camat Brian Kurniawan merespons positif. Ia menilai sinergi Forkopimcam yang sudah terbangun kini mendapat penguat baru lewat komitmen Kapolsek.
*Makna Intelektual: Legitimasi Keamanan Lahir dari Konsensus*
Dalam teori kriminologi, keamanan yang berkelanjutan lahir dari “policing by consent”, bukan “policing by force”. IPTU Saleh memulai masa jabatannya dengan membangun konsensus. Ia sadar, di wilayah agraris-perbatasan seperti Kuala Mandor B, tantangan riil bukan hanya kejahatan konvensional. Ada konflik lahan, peredaran narkoba, hingga gesekan sosial musiman.
Silaturahmi ini adalah investasi legitimasi. Ketika masyarakat merasa didengar sejak hari pertama, maka patuh hukum bukan karena takut, tapi karena percaya.
Sepanjang kegiatan situasi terpantau kondusif dan terkendali. Dan itu bukan kebetulan. Keamanan terbaik memang adalah keamanan yang tidak terlihat, karena masalahnya sudah dicegah di ruang dialog.
Kini, arah kepemimpinan IPTU Saleh sudah terbaca: Kuala Mandor B akan dijaga dari meja-meja musyawarah, bukan hanya dari sirene patroli.






