Haflatul Imtihan Madrasah Babul Ulum 2026: 130 Santri Wisuda, Tradisi Keilmuan Jadi Ruang Kohesi Kuala Mandor B

CK.COM.KUBU RAYA, Kalbar Pondok Pesantren Babul Ulum, Sungai Kunyit, Dusun Jaya Sakti, Desa Kuala Mandor B, Kecamatan Kuala Mandor B, menjadi pusat perhatian pendidikan Islam pada Senin, 15 Juni 2026. Mulai pukul 19.00 WIB, madrasah ini menggelar Haflatul Imtihan Wal Ikhtibar Tahun 2026 sebagai bentuk syukur atas kelulusan 130 santri dan santriwati yang menyelesaikan masa ujian.

Acara tahunan ini bukan sekadar seremoni wisuda. Secara substansi, Haflatul Imtihan berfungsi sebagai evaluasi pembelajaran sekaligus panggung kompetisi keilmuan. Cabang yang dipertandingkan meliputi hafalan Al-Qur’an, sholawat, kaligrafi, dan ceramah. Format ini menegaskan bahwa pesantren mengukur keberhasilan santri bukan hanya dari kelulusan, tetapi dari penguasaan literasi keagamaan secara utuh.

Kehadiran Lintas Unsur Acara dihadiri sekitar 300 orang, terdiri dari wali santri, santri, tokoh agama, dan unsur pemerintah. Hadir Camat Kuala Mandor B Brian Kurniawan,S.Sos.M.AP., Kapolsek Kuala Mandor B IPTU Muhammad Saleh, Kepala KUA Kecamatan Kuala Mandor B Rasuki, S.H.I., Kepala Desa Kuala Mandor B Moh. Ali, serta personel Polsek Kuala Mandor B. Dari kalangan pesantren hadir Pengasuh Ponpes Babul Ulum Kyai Nurul Yakin, Kyai DR. Habib Ali Alhinduan, S.H.M.Pd., Ustadz Muhri, Ustadz Juanto, Ustadz Bekir, dan Ustadz Ismail.

Adapun Susunan Acara

1. Pembukaan oleh KH. Hafidz

2. Pembacaan sholawat oleh santri Babul Ulum

3. Sambutan Panitia oleh Salman Alfarizi.M.Pd.

4. Sambutan Kapolsek KMB IPTU Muhammad Saleh

5. Peresmian oleh Camat KMB Brian Kurniawan,S.STP., M.A.P.

6. Ceramah dan doa oleh DR. Habib Ali Alhinduan, S.H.M.Pd.

Acara ditutup pukul 23.30 WIB dalam situasi aman, kondusif, dan terkendali. Pengamanan dilakukan aparat Polsek Kuala Mandor B bersama panitia sebagai bentuk sinergi menjaga ketertiban ruang publik keagamaan.

Dimensi Intelektual Secara intelektual, Haflatul Imtihan adalah mekanisme akuntabilitas pendidikan pesantren. Kompetisi hafalan Al-Qur’an menguji daya ingat dan ketekunan. Lomba sholawat melatih estetika spiritual. Kaligrafi menumbuhkan apresiasi seni Islam. Cabang ceramah mengasah logika, retorika, dan kemampuan menyampaikan gagasan. Keempatnya membentuk profil santri yang tidak hanya hafal teks, tetapi mampu berdialog dengan zamannya.

Kehadiran Camat dan Kapolsek memberi legitimasi negara pada ruang pendidikan non-formal. Pesan implisitnya jelas: negara hadir untuk melindungi, bukan mengatur isi kurikulum pesantren. Sementara ceramah DR. Habib Ali Alhinduan, S.H.M.Pd. menjadi ruang transfer nilai, menghubungkan teks keilmuan klasik dengan tantangan sosial kontemporer.

Kepala Desa Muhammad Ali menilai acara ini memperkuat modal sosial warga. Ketika wali santri, ulama, pemerintah, dan aparat duduk bersama, yang terbangun adalah kepercayaan kolektif. Kepercayaan ini penting agar setiap kebijakan pendidikan dan keamanan mendapat dukungan publik.

Secara keseluruhan, Haflatul Imtihan Wal Ikhtibar Madrasah Babul Ulum 2026 menegaskan satu tesis: pesantren adalah laboratorium peradaban. Ia mencetak generasi yang menguasai nash, paham konteks, dan menjaga ketertiban. Di tengah arus informasi yang cepat, format evaluasi seperti ini memastikan tradisi keilmuan Islam tetap relevan, terukur, dan berdampak.

/Red/