CK.COM.Pontianak Kalbar Acara ramah tamah sekaligus peringatan ulang tahun Kelompok Betang Informasi yang digelar Jumat, 12 Juni 2026 di Rumah Betang Sutoyo, menegaskan fungsi betang tidak hanya sebagai hunian fisik, tetapi sebagai ruang reproduksi nilai sosial masyarakat Dayak.
Dalam struktur masyarakat Dayak, betang adalah simbol persatuan. Melalui forum ini, Kelompok Betang Informasi menunjukkan bagaimana tradisi kultural itu diadaptasi menjadi wadah konsolidasi modern: mempererat solidaritas, mengevaluasi kebersamaan, dan merancang arah kolektif ke depan.
Ritual Pembuka dan Pesan Kepemimpinan Acara dibuka dengan doa bersama yang dipimpin Bapak Makarius Sintong. Ritual ini menempatkan dimensi spiritual sebagai fondasi setiap gerak kelompok.
Ketua Kelompok Ambirin kemudian menyampaikan pesan kunci sebelum jamuan makan. Ia mengapresiasi kesehatan dan kehadiran seluruh anggota, sekaligus mengingatkan bahwa kekompakan harus melampaui seremoni tahunan.
“Betang ini adalah tempat kita menjalin persaudaraan, saling membantu, dan saling menguatkan satu sama lain. Semoga semangat kebersamaan ini terus terpelihara, tidak hanya di acara-acara tertentu saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Ambirin.
Pernyataan itu merefleksikan kesadaran kepemimpinan adat: kohesi sosial diuji bukan saat berkumpul, melainkan saat menghadapi tantangan sehari-hari.
Dari Jamuan ke Ekspresi Kultural Jamuan makan bersama menjadi medium egalitarianisme. Tanpa sekat status, seluruh warga duduk dalam satu ruang untuk berbagi. Setelahnya, sesi hiburan berupa nyanyi dan joget bersama berfungsi sebagai katarsis kolektif. Ekspresi budaya ini memperkuat ikatan emosional antaranggota, sesuatu yang sulit digantikan oleh forum formal.
Panitia pelaksana Leo, Yosef, Lili Nage, dan Apin di bawah koordinasi Ambirin berhasil menjaga ritme acara tetap hangat namun tertib. Di penutupan, ucapan terima kasih kembali disampaikan, diiringi harapan warga agar perayaan tahun depan dapat diselenggarakan lebih meriah dan lancar.
Catatan Kultural Dalam konteks Kalbar yang multikultural, kegiatan seperti ini penting. Ia menjadi praktik ketahanan budaya: menjaga nama baik kelompok, menegakkan norma saling menghormati, dan memelihara semangat bergotong royong. Betang Informasi membuktikan bahwa modernitas tidak harus memutus akar. Justru, melalui perayaan sederhana, identitas kolektif Dayak terus diwariskan dan direvitalisasi.
/Ulianus CK/






