CK.COM.Kubu Raya Kalbar Nuansa adat kental mewarnai Rumah Radangk, Desa Durian, Kecamatan Sungai Ambawang, Minggu 1 Juni 2026. Dalam rangkaian Pekan Gawai Dayak PGD ke-40, masyarakat adat Dayak Kabupaten Kubu Raya melaksanakan ritual Basaru Semangat, sebuah tradisi pemulihan kekuatan hidup yang diwariskan turun-temurun.
Ketua Umum Bala Adat Dayak Kabupaten Kubu Raya, Ulianus, http://S.Pd., memimpin penjelasan filosofis ritual tersebut di hadapan para sesepuh, pemangku adat, tokoh masyarakat, dan warga. Ia membuka sambutan dengan salam adat: “Adil ka talino, bacuramin ka saruga, basengat ka Jubata.”
Filosofi: Manusia, Semangat, dan Alam Satu Kesatuan Ulianus mengurai makna “Basaru Semangat” secara konseptual. Secara harfiah, “Basaru” berarti mengumpulkan, menyatukan, memulihkan. “Semangat” dimaknai sebagai daya hidup, jiwa, dan energi yang ada pada manusia maupun alam semesta.
“Dalam pandangan adat Dayak, manusia terdiri dari raga dan semangat. Ketika kelelahan, beban pikiran, perjalanan jauh, atau pengaruh lingkungan datang, semangat bisa terpecah atau melemah. Akibatnya tubuh lemas, hati tidak tenang, pikiran kacau,” jelasnya.
Ritual ini bertujuan mengembalikan semangat yang tercecer ke tempat asalnya. Hasilnya, menurut Ulianus, terbagi tiga dimensi:
1. *Semangat Tubuh*: Pulihnya kekuatan fisik dan kesehatan, rasa lelah terganti kesegaran.
2. *Semangat Hati*: Hati menjadi tenang, damai, gembira. Rasa cemas, takut, marah, benci dibersihkan.
3. *Semangat Pikiran*: Pikiran jernih, cerdas, bijaksana dalam mengambil keputusan.
Kerangka berpikir ini menunjukkan kosmologi Dayak yang holistik. Tubuh, jiwa, dan lingkungan dipahami sebagai satu jaringan. Kesehatan bukan hanya soal medis, tapi soal harmoni.
PGD ke-40: Momentum Kedewasaan dan Kekuatan Kolektif Secara khusus, Basaru Semangat di PGD ke-40 dimaknai sebagai ikhtiar memperkuat persaudaraan. Usia 40 tahun disebut Ulianus sebagai fase kedewasaan bagi organisasi adat.
“Melalui ritual ini kita mohon agar semangat persaudaraan disatukan. Tidak ada lagi perbedaan yang memisahkan, tidak ada iri atau dengki. Kita satu hati, satu rasa, satu tujuan. Seperti bilah bambu, satu mudah patah, tapi terikat jadi kuat,” ujarnya.
Ritual juga dipanjatkan untuk keberlanjutan PGD. Diharapkan organisasi ini mendapat “semangat baru” berupa gagasan cemerlang agar adat dan budaya Dayak semakin maju, dikenal, dan dihargai hingga kancah nasional. Kelancaran seluruh program kerja ke depan pun dimohonkan restu.
Nilai Kontemporer Ritual Adat Basaru Semangat menegaskan bahwa adat Dayak bukan sekadar prosesi. Ia adalah sistem nilai dan terapi sosial. Di era modern yang penuh tekanan, praktik memulihkan “semangat” menjadi relevan sebagai cara merawat kesehatan mental kolektif dan kohesi sosial.
Ritual ini mengingatkan: membangun manusia dan membangun budaya harus dimulai dari keutuhan batin. Karena peradaban yang kuat lahir dari individu yang utuh, dan komunitas yang bersatu.
/Ulianus CK/






