Indonesia Akan Keluar dari “Kutukan” Pertumbuhan 5%, On The Way 6%

Corongkasus.com,Jakarta, 24 Februari 2026 – Setelah lebih dari satu dekade pertumbuhan ekonomi nasional bertahan di kisaran 5 persen, Indonesia dinilai berada di ambang keluar dari apa yang kerap disebut sebagai “5 percent growth trap”. Optimisme tersebut menguat seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 yang berpotensi menembus 6 persen.

Sejak awal pemerintahan Joko Widodo bersama Jusuf Kalla pada 2014, berlanjut ke periode kedua dengan Ma’ruf Amin, hingga memasuki pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil di angka 5 persen.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,31 persen pada 2022, 5,05 persen pada 2023, 5,03 persen pada 2024, dan 5,11 persen pada 2025. Sementara itu, proyeksi 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7 persen (year on year), dengan potensi pertumbuhan kuartal I-2026 mencapai 5,5–6 persen.

Indonesia Akan Keluar dari

Sinyal Positif Awal 2026

Kementerian Keuangan Republik Indonesia dalam rilis Januari 2026 menyebutkan pertumbuhan didorong kuatnya permintaan domestik, konsumsi rumah tangga, investasi, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Hilirisasi sumber daya alam (SDA) dan percepatan belanja pemerintah menjadi motor utama.

Pada triwulan IV/2025, Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur berada di zona ekspansi menurut survei S&P Global. Penjualan ritel tumbuh positif dan neraca perdagangan mencatat surplus.

Dari sisi likuiditas, pertumbuhan uang primer (M0) pada Desember 2025 tercatat 11,4 persen (yoy), sedangkan uang beredar luas (M2) tumbuh 9,6 persen (yoy), seiring meningkatnya penyaluran kredit dan koordinasi pelonggaran fiskal-moneter antara pemerintah dan Bank Indonesia.

Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2025 diprakirakan sekitar 5,2 persen.

Optimisme Tembus 6 Persen

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi Indonesia pada kuartal I/2026 dapat tumbuh hingga 6 persen, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 5,6 persen. Belanja negara pada kuartal I-2026 ditargetkan mencapai Rp809 triliun guna menjaga momentum pertumbuhan.

Dorongan tersebut diperkuat stimulus konsumsi, percepatan program MBG Rp62 triliun, serta paket stimulus tambahan Rp13 triliun.

Secara tahunan, Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan 2026 di kisaran 5,4 persen hingga mendekati 6 persen.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan pertumbuhan 2026 berada pada rentang 5,4–5,6 persen.

Proyeksi Lembaga dan Pengamat

Sejumlah lembaga turut memberikan proyeksi optimistis. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan 2026 di kisaran 4,9–5,7 persen. Sementara Permata Bank memprediksi 5,1–5,2 persen, dan APINDO memperkirakan 5–5,4 persen.

Dari kalangan perbankan dan pasar modal, tim ekonom Bank Central Asia (BCA) memproyeksikan pertumbuhan sekitar 5,1 persen pada 2026, didukung stimulus fiskal dan moneter. CORE Indonesia memperkirakan pertumbuhan 4,9–5,1 persen dengan catatan adanya tekanan pada upah riil.

Mayoritas ekonom sepakat konsumsi rumah tangga—yang menyumbang sekitar 53 persen terhadap PDB—tetap menjadi motor utama, disusul investasi (PMTB) sekitar 29 persen dan ekspor sekitar 22 persen.

Menuju Pertumbuhan 6–8 Persen

Penulis memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melesat hingga 6 persen bahkan lebih, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan 6–8 persen.

Momentum konsumsi awal tahun, termasuk periode libur dan Ramadan Februari–Maret 2026, diyakini akan mendorong aktivitas ekonomi secara signifikan.

Arah kebijakan ekonomi politik pemerintahan saat ini yang menitikberatkan pada kemandirian nasional, penguatan ekonomi kerakyatan, hilirisasi industri, ketahanan pangan dan energi, serta pengurangan ketergantungan impor dinilai menjadi fondasi penting percepatan pertumbuhan.

Dengan kombinasi stimulus fiskal, pelonggaran moneter, percepatan investasi, serta penguatan sektor riil, Indonesia dinilai memiliki peluang nyata untuk keluar dari stagnasi pertumbuhan 5 persen yang telah berlangsung selama 12 tahun terakhir.

Optimisme tersebut menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia tengah berada di jalur menuju pertumbuhan 6 persen—bahkan lebih tinggi—dalam beberapa tahun mendatang. (*)

Editor : DM