Corongkasus.com ~ Singkawang, Kalimantan Barat — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia tidak semestinya hanya dimaknai melalui pengibaran bendera, upacara, perlombaan dan berbagai kegiatan seremonial.
Ada makna kemerdekaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni bagaimana masyarakat mampu menjaga lingkungan agar tetap nyaman, sehat dan layak diwariskan kepada generasi berikutnya., pada Selasa (11/08/2026).
Pesan tersebut disampaikan Safari Hamzah, S.Ag., M.Si., Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Singkawang, melalui sebuah refleksi bertajuk “Merdeka dari Panas, Merdeka dari Tidak Peduli.”
Safari mengajak masyarakat untuk melihat persoalan lingkungan dari hal yang paling sederhana, yakni kondisi rumah dan lingkungan tempat tinggal.
Dulu Tanpa AC, Kini AC Bertambah tetapi Bumi Makin Panas
Safari mengawali refleksinya dengan mengingat masa kecil ketika masyarakat belum mengenal pendingin ruangan atau AC.
Rumah-rumah di kampung tidak memiliki AC. Namun, masyarakat tetap dapat tidur dengan nyaman.
Pagi hari disambut udara yang masih segar. Jendela dibuka. Angin masuk. Pepohonan di halaman menjadi payung alami.
Matahari tetap ada, tetapi panasnya tidak terasa seperti sedang mengejar manusia.
Kondisi tersebut berbeda dengan kehidupan saat ini.
Rumah semakin dilengkapi AC. Bahkan tidak sedikit rumah yang menggunakan pendingin ruangan di hampir setiap ruangan.
Namun ironisnya, ketika rumah semakin dingin, bumi justru semakin panas.
Penggunaan AC semakin lama, konsumsi listrik meningkat dan tagihan pun ikut bertambah.
Safari kemudian mengajak masyarakat bertanya kepada diri sendiri.
Jangan-jangan masyarakat sedang membayar mahal untuk mengatasi panas yang sebagian justru diciptakan sendiri.
Pohon ditebang untuk memperluas bangunan.
Halaman dicor agar terlihat bersih.
Jendela ditutup rapat.
Ruang terbuka semakin berkurang.
Setelah itu, AC dinyalakan untuk mendapatkan kesejukan.
Padahal, listrik hanya bekerja sesuai perintah manusia.
AC juga tidak pernah meminta sebuah rumah menjadi panas. Mesin tersebut hanya bekerja lebih keras ketika ruangan membutuhkan pendinginan.
Pohon Juga Bisa Mendinginkan
Safari menegaskan, persoalannya bukan apakah masyarakat boleh menggunakan AC.
Tentu saja boleh.
Sebagai masyarakat yang hidup di wilayah tropis, AC dalam kondisi tertentu memang dibutuhkan.
Namun, jangan sampai AC menjadi satu-satunya cara manusia memahami arti kesejukan.
Pohon bisa mendinginkan.
Angin bisa mendinginkan.
Naungan bisa mendinginkan.
Ruang terbuka juga bisa mendinginkan.
Dan ada satu perbedaan yang sangat sederhana:
Pohon tidak mengirimkan tagihan bulanan.
Karena itu, menurut Safari, pembangunan kota harus mulai memperhitungkan kemampuan lingkungan dalam menciptakan kesejukan secara alami.
Singkawang Perlu Mulai Berpikir tentang Kota yang Teduh
Safari kemudian menyinggung konsep kota berkelanjutan seperti Singapura.
Kota modern, menurutnya, tidak hanya berpikir bagaimana membangun gedung dan infrastruktur. Tetapi juga bagaimana menjaga agar kota tetap nyaman ketika suhu semakin tinggi.
Gedung dirancang.
Transportasi dipikirkan.
Air dikelola.
Sampah diolah.
Energi diperhitungkan.
Ruang hijau dipertahankan.
Dengan demikian, kesejukan kota tidak seluruhnya diserahkan kepada mesin.
Kota juga harus ikut bekerja untuk mendinginkan dirinya sendiri.
Gagasan tersebut dinilai relevan bagi Singkawang yang ingin terus berkembang sebagai kota wisata sekaligus kota yang nyaman untuk ditinggali.
Wisatawan tidak hanya membutuhkan tempat yang bagus untuk difoto.
Mereka juga membutuhkan tempat yang nyaman untuk berjalan, duduk, makan, berbincang dan menikmati suasana sore.
Dan semuanya tidak selalu membutuhkan bangunan mahal.
Terkadang, kota hanya membutuhkan pohon yang cukup besar untuk memberikan keteduhan, trotoar yang nyaman, taman yang hidup, ruang publik yang tidak panas serta jalan yang tidak seluruhnya dikuasai kendaraan.
Sebab, kota yang baik bukan hanya kota yang bisa dilewati. Kota yang baik adalah kota yang membuat orang ingin berhenti.
HUT RI Jangan Hanya Seremonial
Memasuki momentum HUT ke-81 RI, Safari mengajak masyarakat memperluas makna kemerdekaan.
Merdeka dari sampah.
Merdeka dari boros energi.
Merdeka dari kebiasaan menebang pohon tanpa menanam kembali.
Merdeka dari kebiasaan mengecor seluruh halaman.
Merdeka dari kebiasaan menyerahkan persoalan lingkungan sepenuhnya kepada pemerintah.
Dan yang paling penting:
Merdeka dari tidak peduli.
Menurut Safari, kerusakan lingkungan sering kali tidak dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia justru dapat berawal dari hal-hal yang dianggap kecil.
Satu plastik.
Satu pohon.
Satu parit.
Satu halaman.
Satu kebiasaan.
Satu kalimat:
“Ah, cuma saya.”
Persoalannya, jutaan orang juga bisa berpikir dengan cara yang sama.
Satu plastik memang kecil.
Tetapi jika jutaan orang membuang satu plastik setiap hari, sungai tidak akan menganggapnya kecil.
Satu pohon memang hanya satu pohon.
Namun ketika ribuan pohon hilang, kota akan merasakan perbedaannya.
Dalam bentuk panas.
Dalam bentuk banjir.
Dalam bentuk udara yang semakin tidak nyaman.
Bahkan dalam bentuk tagihan listrik yang semakin tinggi.
Gerakan Lingkungan Harus Dimulai dari Rumah
Safari menilai mencintai lingkungan sebenarnya tidak membutuhkan sesuatu yang rumit.
Mulai dari rumah.
Tanam satu pohon.
Rawat sampai besar.
Jangan hanya menanam kemudian lupa menyiram.
Berikan ruang bagi tanah untuk bernapas.
Pisahkan sampah.
Manfaatkan sisa dapur menjadi kompos.
Buat lubang biopori.
Kurangi plastik sekali pakai.
Gunakan listrik seperlunya.
Matikan AC apabila ruangan tidak digunakan.
Buka jendela ketika kondisi udara memungkinkan.
Kemudian ajak tetangga melakukan hal yang sama.
Jika satu rumah melakukan, itu menjadi kebiasaan.
Jika satu RT melakukan, itu menjadi gerakan.
Jika satu kelurahan melakukan, itu menjadi budaya.
Dan jika satu kota melakukan, itu bisa menjadi identitas.
Jangan Hanya Membuat Kegiatan, Tinggalkan Warisan
Safari membayangkan momentum kemerdekaan tahun ini dapat diisi dengan gerakan sederhana di tingkat RT untuk menciptakan lingkungan yang lebih teduh.
Bukan lomba yang hanya bagus sehari.
Bukan pula dekorasi yang setelah kegiatan selesai justru menjadi sampah.
Tetapi kegiatan yang meninggalkan sesuatu.
Menanam pohon.
Membersihkan parit.
Membuat taman kecil.
Mengelola sampah.
Membuat kompos.
Menghemat listrik.
Merawat ruang publik.
Yang penting ada sesuatu yang tumbuh setelah kegiatan selesai.
Sebab, menurut Safari, kemerdekaan seharusnya meninggalkan warisan.
Bukan hanya foto.
Bukan hanya dokumentasi.
Bukan hanya berita.
Tetapi sesuatu yang masih dapat dinikmati ketika generasi sekarang sudah tidak ada.
Pohon yang ditanam hari ini mungkin belum menaungi orang yang menanamnya.
Tidak masalah.
Biarkan anak-anak menikmatinya.
Atau cucu.
Atau bahkan orang lain yang tidak pernah tahu siapa yang menanamnya.
Karena kepedulian tidak selalu membutuhkan pengakuan.
“Bumi Bukan Warisan yang Boleh Kita Habiskan”
Safari mengingatkan bahwa manusia pernah hidup di tempat ini.
Menikmati udara dari bumi.
Meminum airnya.
Berteduh di bawah pepohonannya.
Karena itu, tidak pantas apabila generasi sekarang meninggalkan bumi dalam keadaan lebih buruk.
“Bumi bukan warisan yang boleh kita habiskan. Ia titipan yang harus kita teruskan.”
Ketika Merah Putih berkibar pada Agustus ini, Safari mengajak masyarakat membawa satu pertanyaan sederhana:
“Apa yang sudah saya lakukan untuk membuat tempat tinggal saya sedikit lebih baik?”
Jawabannya tidak harus besar.
Mungkin satu pohon.
Satu parit yang dibersihkan.
Satu kebiasaan membuang sampah yang dihentikan.
Satu AC yang dimatikan ketika tidak diperlukan.
Atau satu tetangga yang diajak bergerak.
Kelihatannya kecil.
Tetapi semua perubahan besar memang pernah dimulai dari sesuatu yang kecil.
Merdeka Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan
Safari menilai perjuangan kemerdekaan dahulu membutuhkan keberanian para pejuang.
Sementara kemerdekaan hari ini harus dirawat dengan kesadaran masyarakat.
Merdeka bukan hanya bebas dari penjajah.
Merdeka juga berarti bebas dari kebiasaan yang membuat hidup kita sendiri semakin tidak nyaman.
Maka, mari merdeka dari panas.
Bukan hanya dengan menambah AC.
Tetapi dengan menambah pohon.
Merdeka dari boros listrik.
Bukan dengan mematikan kehidupan.
Tetapi dengan menggunakan energi seperlunya.
Dan yang paling penting—
merdeka dari tidak peduli.
Karena mencintai bumi tidak membutuhkan pidato panjang.
Tanam. Rawat. Kurangi. Hemat. Jaga. Ajak.
Sesederhana itu.
Namun jika dilakukan bersama-sama, dampaknya bisa luar biasa.
Pada momentum HUT ke-81 Republik Indonesia, Safari Hamzah mengajak masyarakat menjadikan kemerdekaan sebagai momentum untuk membangun Singkawang yang bukan hanya hebat dan juara, tetapi juga teduh, nyaman, sehat dan peduli bumi.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka dari panas.
Merdeka dari boros energi.
Merdeka dari sampah.
Dan yang paling penting—merdeka dari tidak peduli.
Penulis : Safari Hamzah, S.Ag., M.Si. Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang
Jurnalis : Ferry S
CORONGKASUS.COM — Mengawal Fakta, Menyuarakan Keadilan






