Gus Muhaimin Iskandar, Figur Nahdliyin Berpengalaman yang Layak Memimpin PBNU

Oleh: Imam Baehaqi

Corongkasus.com,Rembang, 30 Juni 2026 – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), berbagai nama mulai diperbincangkan sebagai calon pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Di tengah tantangan yang semakin kompleks—mulai dari penguatan ukhuwah nahdliyah, konsolidasi organisasi, pemberdayaan ekonomi warga, hingga menjaga hubungan yang konstruktif dengan negara—NU membutuhkan figur yang tidak hanya memahami organisasi secara konseptual, tetapi juga memiliki pengalaman panjang dalam tradisi, kultur, dan dinamika Nahdlatul Ulama.

Salah satu nama yang dinilai layak dipertimbangkan adalah Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin. Saat ini ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Rekam jejaknya di lingkungan pesantren, PMII, PKB, hingga pemerintahan menjadi modal yang dinilai relevan untuk memimpin organisasi sebesar NU.

Berakar dari Tradisi Pesantren

Gus Muhaimin lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 24 September 1966. Ia tumbuh dalam keluarga pesantren yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Nahdlatul Ulama. Dari garis ibunya, ia merupakan cicit KH Bisri Syansuri, Rais Aam PBNU sekaligus salah seorang pendiri (muassis) NU dan pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.

Latar belakang tersebut bukan semata soal garis keturunan, melainkan proses pendidikan dan pembentukan karakter dalam lingkungan pesantren yang telah berlangsung sejak kecil. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Tumbuh Melalui Proses Kaderisasi

Salah satu kekuatan Gus Muhaimin adalah pengalaman organisasinya yang tumbuh melalui proses kaderisasi. Saat menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi kader NU yang telah melahirkan banyak tokoh nasional.

Ia pernah memimpin PMII Cabang Yogyakarta sebelum kemudian terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar PMII periode 1994–1997. Pada masa kepemimpinannya, PMII memperkenalkan gagasan Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran, sebuah pendekatan yang menempatkan masyarakat kecil sebagai subjek utama pembangunan dan pemberdayaan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinannya dibentuk melalui proses kaderisasi yang panjang. Ia memahami dinamika organisasi dari tingkat bawah hingga nasional, sebuah pengalaman yang dinilai penting dalam memimpin jam’iyah sebesar NU.

Memahami NU dan Politik Kebangsaan

Pascareformasi 1998, Gus Muhaimin menjadi salah satu tokoh muda yang terlibat dalam proses pendirian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang lahir dari aspirasi para kiai NU sebagai wadah perjuangan politik kebangsaan.

Sejak 2005, ia dipercaya memimpin PKB sebagai Ketua Umum. Di bawah kepemimpinannya, PKB mampu mempertahankan eksistensi sekaligus meningkatkan perolehan suara dalam berbagai pemilu. Konsistensi memimpin partai selama lebih dari dua dekade dinilai mencerminkan kemampuan manajerial, konsolidasi organisasi, dan penyelesaian berbagai dinamika internal.

Di pemerintahan, Gus Muhaimin juga memiliki pengalaman yang panjang. Ia pernah menjadi anggota DPR RI, Wakil Ketua DPR RI, Wakil Ketua MPR RI, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang luas mengenai tata kelola pemerintahan dan perumusan kebijakan publik.

Menjawab Tantangan NU ke Depan

Ke depan, NU menghadapi sejumlah tantangan strategis, mulai dari memperkuat ukhuwah nahdliyah, meningkatkan kemandirian ekonomi warga, menjaga marwah organisasi di tengah dinamika politik nasional, menyiapkan kader muda menghadapi transformasi digital, hingga memperkuat posisi NU sebagai rujukan Islam moderat di tingkat global.

Dalam konteks tersebut, Gus Muhaimin dinilai memiliki sejumlah modal penting.

Pertama, pengalaman panjang di dunia pesantren dan PMII membuatnya memahami kultur internal NU secara mendalam.

Kedua, jejaring nasional dan internasional yang dimilikinya berpotensi memperkuat kolaborasi NU dengan pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat sipil.

Ketiga, pengalamannya memimpin organisasi besar selama lebih dari 20 tahun menunjukkan kapasitas dalam membangun konsolidasi dan menjaga soliditas organisasi.

Keempat, pengalamannya di bidang pemberdayaan masyarakat dinilai selaras dengan kebutuhan NU untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga. Sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, salah satu fokus kebijakannya adalah penguatan ekonomi rakyat dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Khidmah untuk NU

Pemilihan Ketua Umum PBNU sepenuhnya merupakan kewenangan para muktamirin. Namun, apabila tolok ukurnya adalah pengalaman organisasi, pemahaman terhadap tradisi Nahdlatul Ulama, kapasitas kepemimpinan nasional, kemampuan membangun konsolidasi, serta jaringan kebangsaan yang luas, maka Gus Muhaimin Iskandar merupakan salah satu figur yang layak dipertimbangkan.

Perjalanan panjangnya sebagai kader PMII, aktivis Nahdlatul Ulama, pemimpin partai politik, hingga pejabat negara menunjukkan konsistensi pengabdiannya kepada umat, bangsa, dan negara. Bagi sebagian warga Nahdliyin, kesempatan memimpin PBNU dapat dipandang sebagai puncak khidmah yang menyatukan pengalaman keumatan, kebangsaan, dan kepemimpinan demi kemaslahatan Nahdlatul Ulama serta Indonesia.

Editor : DM MPGI